Sebagai orang IT dan juga mahasiswa yang sering berkutat dengan komputer, sehari-harinya dapat dilewatkan hanya dengan duduk di depan layar laptop 15 inchi. Ngapain? Mengerjakan tugas, bekerja, browsing, mencari hiburan, dan bahkan bersosialisasi juga. Dari jatah 24 jam sehari, kadang lebih dari 10 jam sehari harus terkena radiasi dari “barang wajib” ini.
Akibatnya, saya sempat pusing-pusing beberapa hari. Mungkin karena kontraksi mata untuk melihat dekat dipaksa terus-menerus dan jadinya urat-urat di sekitar kepala menjadi tegang.
Untuk mengatasi masalah tersebut, akhirnya saya memutukan untuk mencari suasana baru. Bukan suasana baru untuk bekerja, tapi untuk sekedar merilekskan mata ini. Terlebih-lebih selain laptop, pemandangan sehari-hari saya adalah dinding kamar yang tidak ada motifnya sama sekali. Putih tok.
Setelah mandi dan makan, saya keluar dari rumah dengan tujuan berkeliling di sekitar kompleks perumahan tempat saya tinggal. Saya sempat “curiga” kalau daerah saya itu bagus untuk jalan-jalan santai. Sempat malas juga tiba-tiba karena hanya menemukan daerah yang sedang dalam masa pembangunan. Udah panas, berdebu pulak.
Berganti haluan, saya akhirnya tidak sengaja sampai ke sebuah tempat yang keliatannya asri dan terawat. Ternyata oh ternyata, kuburan coy!. Hehehe. Tapi, bukannya cabut, saya malah masuk ke daerah kompleks peristirahatan terakhir tersebut. Mengambil beberapa foto dari tempat tersebut dan duduk sejenak di bangku yang disediakan persis di pintu masuk tempat tersebut. Mungkin maksudnya bangku diletakkan di sana supaya orang-orang bisa duduk di sana sejenak untuk memikirkan masa depannya berakhir di mana. Sempat ada pikiran aneh-aneh juga, tapi itu semua efek karena masih kelelahan, mata sayu karena di depan komputer terus, dan tenaga dari makanan belum diolah maksimal. Tambah lagi ada efek angin semilir, suara daun-daun, rasa sepi di kuburan.Hehehe. Oh iya, ternyata kuburan tersebut tempat pemakaman korban-korban perang.
Saya melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah gereja tua kecil di pinggir jalan. Di depan gereja tersebut terdapat beberapa kuburan, mirip dengan daerah gereja-gereja tua di Indonesia juga. Saya pun masuk ke kompleks gereja tersebut dan berjalan ke belakang gereja. Di sana ternyata terdapat beberapa kuburan lagi. Kuburan tersebut milik orang-orang yang hidup pada tahun 1800 akhir. Yang menarik, saya dapat melihat peternakan domba lengkap dengan domba-dombanya (ya iyalah domba, masa’ kambing
) yang sedang bermain, santai, atau lagi makan. Udara memang semilir waktu itu dan pemandangan kincir angin tak berapa jauh dari peternakan itu juga terlihat. Baguslah pokoknya. Btw, kayaknya seram juga kalau main-main ke gereja itu pas malam-malam ya
.
Keluar dari kompleks gereja, perjalanan diteruskan dengan menyusuri tepi jalan lurus yang mengarah ke kota lain. Di sepanjang jalan tersebut, saya menemukan lahan yang sangat luas, yang sepertinya akan ditanami atau hanya sekedar tempat peternakan binatang seperti kuda atau domba. Saya sempat ketemu cewek-cewek berkuda sedang membawa peliharaannya berjalan-jalan. Melihat mereka membersihkan pekarangan tempat kudanya, saya teringat film-film cowboy Hollywood. Hehehe.
Ketika pulang dari jalan-jalan santai, saya kembali harus melintasi jalan setapak dekat kuburan. Di sana ternyata ada beberapa orang ibu-ibu tua membersihkan kuburan dan menyiram tanaman di sana. Mungkin mereka adalah teman atau keluarga dari penghuni di sana.
Saya pulang ke rumah dengan rasa puas. Selain cuacanya mantap, tempat yang dilewati juga sangat cocok untuk membantu mata untuk berkontraksi melihat benda-benda jauh dan gak nyangka ternyata memang ada pemandangan bagus dekat rumah. Mungkin karena musim semi juga, jadi bunga-bunga sedang bermekaran dengan indahnya.
Ketika berjalan di sana, saya juga teringat ketika berjalan kaki di desa Parbubu Tarutung, ada sesuatu yang mirip. Deja vu gitulah :-D. Ntar semua foto-foto hasil jepretan menyusul.

Recent Comments