Sempat delay 2 hari untuk ngepost di blog Soul Hotel ini, maklumlah ide tulisan sudah ada, tapi tiba-tiba ada kerjaan yang lain. Akibat malas maksudnya, seperti tidur, browsing gak jelas, atau malah jalan-jalan di centrum tanpa arah dan tujuan yang jelas. Tapi saya tetap membuat tanggal postingan ini sesuai dengan tanggal hari Jumat kemarin (6 Februari 2009).
Jadi hari Jumat kemarin ada aja yang gak biasa, khususnya mulai dari petang hingga menjelang malam. Berawal dari jalan-jalan di centrum untuk cari angin, tapi karena sepeda lagi tidak ada, akhirnya memilih naik bus yang mahal itu. Nah, kejadian pertama ini terjadi di bus ketika saya akan pulang dari centrum, yang sebenarnya bukan kejadian aneh, tapi jarang terjadi. Maklum, seringnya naik sepeda.
Ketika di dalam bus, karena gak ada teman ngobrol, akhirnya jadi melamun sendiri sambil memandangi dua orang mbak-mbak bule cakep yang duduk satu baris di kiri depanku yang sedang mengobrol dengan antusias, sambil sekali-sekali cekikian (tinggal matiin lampu, kasih baju putih, nyalain lampu senter dan sorot wajahnya, pasti lebih “hidup” lagi suasana di bus itu). Entah kenapa, tiba-tiba saya teringat dengan program remote desktop yang pernah kupakai pas jaman kuliah dulu di kampus pinggir Danau Toba. Sebenarnya program komputer ini bukan ditujukan untuk keperluan mengakses komputer lain, malah hanya untuk menyimpan informasi. Tapi dasar mahasiswa, selalu saja dapat wahyu entah dari mana untuk berkreativitas dengan fungsi-fungsi di program komputer ini. Untungnya saat itu masih disebarkan secara terbatas pengetahuannya, karena kemampuannya yang sangat luar biasa ini (untuk mengisengi *kata dasar iseng* mahasiswa lain). Lagian, om si Peter Parker (Spiderman, 2002) sudah memberi pesan: “With great power comes great responsibility“, yang kalau diterjemahin secara harafiah “Dengan besar kekuatan datang besar tanggung jawab” (normalnya, “Dengan kekuatan yang besar dibarengi dengan tanggung jawab yang besar“, pilih aja mana yang lebih cocok sesuai selera). Jadi, saya juga merasa memiliki tanggung jawab untuk menggunakan kekuatan ini (untuk mengerjain mahasiswa lain).
Tersebutlah suatu hari di mana saya dan beberapa teman dapat jatah masuk lab. Seperti biasa, saya mengutak-atik komputer, bukan, bukan karena lagi pengen belajar, hanya melihat film mana yang belum ditonton atau game mana yang belum dicoba di komputer. Nah, tersebut lagilah beberapa teman saya yang sedang mengerubungi sebuah komputer dimana sepertinya sedang terjadi pemutaran film (saya gak tahu filmnya, silahkan berkreativitas sendiri memikirkan kira-kira filmnya apa…tahun 2003
).
Tiba-tiba saja pikiran isengku muncul (memang sudah gatal pengen iseng sejak jalan dari asrama ke lab
), dan akhirnya program komputer tersebut saya jalankan. Kalau orang melihat saya dengan program komputer itu sekilas tentu tidak akan curiga, wong programnya dipakai untuk sebuah mata kuliah dan sebenarnya bukan untuk keperluan remote desktop.
Nah, di saat mereka sedang serius menonton, berkeringat (AC waktu itu lagi dimatiin), dan sesekali berkomentar, saya mengakses komputer teman saya tersebut, sebut saja teman-teman saya itu si ADKK (si A dan Kawan-Kawan). Saya memunculkan pesan dengan Net Send yang isinya seolah-olah berasal dari dosen dan meminta mereka untuk bubar dan belajar.
Mereka panik! Pucat! Yang punya komputer lebih panik lagi. “Mampus, ketahuan!”, itu mungkin yang ada dalam pikirannya.
Akhirnya mereka berdiskusi sebentar tentang “apa nontonnya mau dilanjut atau enggak?”, sementara saya pura-pura ke WC sambil menahan senyum dan tawa. Ketika kembali ke lab, ternyata mereka masih melanjutkan tontonannya. Saya baru ingat kalau memang ada program lain yang sering digunakan mahasiswa di kampus saya untuk mengirimkan pesan ke komputer lain dengan identitas yang bisa diganti-ganti. Batal paniknya mereka.
Ok, sekarang saya mengirimkan pesan yang sama, mematikan program Windows Media Player yang digunakan untuk menonton film, dan memberi pesan tambahan kalau program tersebut dimatikan dari PC lain dan IP komputer tersebut sudah dicatat. Panik, mereka langsung bubar. Yang punya komputer kayaknya sudah keringat dingin (FYI, satu buah komputer memang diassign untuk satu mahasiswa).
Sementara itu, saya ketawa-tawa sendiri
. Terbahak-bahak pastinya dengan gaya yang sedapat mungkin tidak mencurigakan *bahasanya ini
*. Akhirnya, ada teman yang nanya kenapa saya ketawa, curiga mungkin, tapi saya langsung jawab “Ada email lucu dari teman”.
Tapi lamunan tersebut terhenti seiiring dengan berhentinya bus. Si mbak-mbak bule cekikikannya mau turun. Kirain mereka turun karena melihat saya senyum-senyum sendiri sambil melihat kaca bus yang kebetulan bisa digunakan sebagai cermin karena di luar sudah gelap. Suara hati kecil saya ternyata salah, ternyata memang rumah mereka di dekat halte bus tersebut.
Capek dan kantuk menyerang, akhirnya saya tidur-tidur ayam (sleeping-sleeping chicken) di bus. Perasaan baru sebentar menutup mata dan ternyata halte tempat saya seharusnya turun sudah tinggal 5 meter lagi. Untungnya saya berada di dekat dua orang mahasiswa Cina yang sepertinya tinggal satu bangunan dengan saya. Mereka sudah memencet bel tanda stop. Tapi kayaknya supirnya juga melamun, halte tersebut terlewati. Saya dan 2 mahasiswa Cina tersebut akhirnya turun di halte berikutnya. Tak apalah, lumayan goyang lutut untuk olahraga malam-malam.
Ketika sudah mendekati Red Building (bangunan tempat saya tinggal), tiba-tiba dari lantai 6 atau 7 ada yang melempar sesuatu yang sepertinya ada apinya. Duarrrrrrr!!! Dengan sempurnanya saya terkejut. Anjrittttt. Ternyata itu petasan sisa perayaan tahun baru kemarin yang belum sempat dinyalain. Orang-orang yang sedang berada di bar lantai dasar bangunan sampai keluar. Terkejut juga.
Karena saya kebetulan sedang sendiri berada parkiran saat itu (mahasiswa Cinanya masih ketinggalan jauh di belakang) mungkin mereka pikir saya yang menyalakan petasan tersebut. Terlihat dari pancaran sinar dari tatapan mereka. Cuek, saya langsung masuk gedung.
Memang kalau sudah hari Jumat, kelakuan mahasiswa-mahasiswa internasional dan apalagi mahasiswa Belanda memang agak-agak di luar akal sehat…Hehehe. Selalu aja ada yang “kreatif”.
Share on Facebook
Recent Comments